Soundssation - Sosok Dilan nggak cuma ada di novel bikinan Pidi Baiq. Tiap sekolah, atau bahkan tiap angkatan di sekolah, senggaknya punya satu murid cowok yang walaupun agak nakal, tapi secara natural dia berani bersuara dan menyebarkan pengaruh ke teman-temannya, mirip kayak Dilan.
Dia bukan ketua OSIS, tapi apa yang dikatakan selalu diecamkan. Dia nggak pinter-pinter amat di urusan pelajaran, tapi nggak pernah keabisan akal untuk bikin rame tongkrongan. Dia punya jiwa rebel, tapi selalu punya caranya tersendiri untuk bikin temen-temenya selalu respek.
“Di sekolah gue ada cowok kayak Dilan, kak. Temen sekelas gue, Jaru namanya,” cerita Mega Pramesti, SMAN 91 Jakarta, kepada HAI suatu hari, lewat LINE. Terbukti, kan?!
Ya, begitu ngomongin Dilan, teman-teman di SMAN 91 Jakarta pasti teringat seorang siswa di kelas XII. Jaru namanya. Di angkatanya sekarang, nama Jaru pertama mencuat karena ia dipaksa tinggal kelas oleh sekolah karena alasan yang sampai sekarang Jaru sendiri nggak bisa terima.
Nggak heran kalau Jaru disegani.Tapi bukannya jumawa, Jaru malah jadi membumi. Berada di satu angkatan dengan mereka yang tadinya adik kelas, Jaru menolak dianggap senior. Namun, karena udah dia punya idealisme yang cukup kuat dan jiwa leadership, secara alami Jaru jadi berpengaruh.
Di pertemanan, Jaru dianggap sebagai pentolan sekolah. Jaru adalah “kepala” dari sebuah organisasi informal bernama Arpeninos yang diwariskan turun-temurun sejak tahun 2008 silam.
“Gue ikutan Arpeninos dari kelas satu. Arpeninos itu kepanjangan sebenarnya adalah Anak Rusuh Penghuni Ninety One School. Tapi, di depan guru, kami bilangnya Anak Rajin Penghuni Ninety One School, hehe.” ujar cowok yang doyan banget main futsal ini.
Arpeninos sendiri terbentuk karena, dulu, di SMAN 91 terkenal banget akan senioritas. Sejak adanya Arpeninos pada tahun 2008 silam, senioritas benar-benar hilang. Salah satu alasan Jaru gabung ke Arpeninos karena dia nggak pengin ada senioritas ketika MOS, yang mana, dilakukan oleh anggota OSIS.
Rebel But Respectfull
Ya, beda sama ketua OSIS yang cenderung formal dan normatif, para informal leader alias pentolan sekolah pasti menyimpan jiwa rebel dalam dirinya. Nah, untungnya, mereka selalu tahu betul mana yang perlu dilawan: ketidakadilan.
Begitu pula yang dilakukan Jaru, tiap kali ada kebijakan guru yang menurutnya nggak ideal, dengan enteng aksi protes ia lakukan.
“Gue sering cabut satu-dua mapel yang gue nggak suka cara pengajaran gurunya. Gue punya alasan buat protes ke guru karena gue ngerasa punya hak sebagai murid untuk dapat pendidikan dan cara pengajaran yang menyenangkan. Pernah, gue disuruh keluar kelas karena baju gue nggak dimasukkin ke celana. Gue sekalian aja cabut ke kantin sampai pelajaran kelar. Masa, cuma karena pakaian nggak rapih, gue nggak bisa ikut pelajaran,” cerita cowok kelahiran 1999 yang punya catatan khusus di guru BK.
Terlebih lagi Adhit dari SMAN 1 Pati Jawa Tengah. Nama Adhit bahkan seolah disinomimkan dengan protes oleh teman-teman di sekolah. Gimana nggak, sudah sejak awal masuk sekolah, nama Adhit jadi omongan temen-temen seangkatan dan kakak kelasnya. Dia memprotes penyelenggaraan masa orientasi sekolah (MOS). Saat itu, salah seorang teman Adhit dipanggil maju oleh senior karena melakukan suatu kesalahan. Hukuman push-up seratus kali pun divoniskan.
Sementara teman-teman lainnya cuma bisa nunduk sambil nelen ludah, Adhit keluar barisan dan maju ke depan.
“Memangnya kakak pernah push up sampai seratu kali? Dia temenku, nggak bakal aku biarin dikasih hukuman kayak gitu,” kata Adhit berani. Sang senior yang saat itu cuma beraksi sendiri, jalan keluar ruangan untuk memanggil gerombolannya. Adhit lalu dibentak keroyokan.
Adhit adalah warga sekolah biasa. Cuma saja, dia nggak mau gampang terima keadaan yang menurutnya nggak ideal. Di kelas XI, protesnya kembali menggaung. Kali ini teman-teman seangkatannya sendiri yang ia tentang. Adhit nggak suka kalau sekolahnya bikin acara perayaan ulang tahun yang butuh banyak anggaran.
“Seluruh murid disuruh bayar buat tiket dan lain-lain. Dia bilang, ‘kok mahal banget!” sambil marah-marah ke anak OSIS yang waktu itu masih kelas X,” Meli teman Adhit nggak pernah lupa dengan kejadian itu. Saat rapat OSIS membahas acara tersebut pun, Adhit diundang oleh ketua, Ika Risanti, untuk berdiskusi. Debat mau nggak mau terjadi
Cowok penyuka sosok Sudjiwo Tedjo, Jerinx “SID”, dan band punk Marjinal itu rupanya nggak ingin sekolahnya menggelar acara ulang tahun sekolah yang terlalu mewah. Menurutnya, buat apa mengejar gengsi dengan bikin acara wah dan mengundang banyak sekolah “Sederhana saja, yang penting bisa dinikmati bersama,” papar Adhit kepada HAI lewat telpon. Akhirnya, acara pentas seni yang dipilih adalah yang hanya untuk kalangan internal sekolah saja.
Di kalangan siswa, temen kayak Adhit dan Jaru memang bukan nahkoda sebenarnya. Tapi, keberaniannya membuat mereka jadi berpengaruh. Di luar jam sekolah, mereka lebih suka kongkow di warung kopi, namun pendapatnya bisa bergaung sampai ke ruang OSIS.
“Kalau gue emang percaya (leader kayak) Jaru. Kenapa? Walaupun nakal, gue ngerasa kalau dia orangnya pegang komitmen banget. Gue rasa, loh. Terus, kalau gue lihat, Jaru punya channel banyak, jadi kalau jalanin program kerja lebih sip lah!” ungkap Mega, teman seangkatan Jaru.
Pokoknya, asalkan pengaruhnya tetap positif dan bisa dipertanggungjawabkan, informal leader malah perlu didukung dan nggak salah kalah bareng-bareng ketua OSIS jadi panutan juga.
Sumber : Hai-Online
0 Response to "Nakal dan Berani Bersuara, Alasan Jagoan Sekolah Lebih Berpengaruh Dibanding Ketua OSIS"
Post a Comment